Pantai Pasir Perawan merupakan destinasi yang bikin penasaran ketika
memutuskan untuk ngebolangs ke Pulau Pari di Kepulauan Seribu, Jakarta.
Bulan Januari yang dipenuhi dengan rintik hujan tidak menyurutkan
keinginan tersebut. Jadilah 20 orang bergabung untuk mengunjungi Pulau
yang bisa ditempuh dalam waktu sekitar 1.5 hingga 2 jam dari Pelabuhan
Muara Angke.
Sabtu 12 Januari 2013, jam 6 pagi cuaca diseputaran Angke tidak
terlalu cerah. Akibatnya beberapa orang yang dadakan memutuskan untuk
bergabung mungkin masih asik dengan selimutnya. Sehingga jam 7:15
rombongan ngebolangs baru kumlit berkumpul di Kapal Sinar Laut, yang
akhirnya berangkat pada pukul setengah delapan. Maaf ya Pak Kapten
Zakar… ayoooo kita ngebolangs.
Setengah sepuluh kita sudah tiba di Pulau Pari, dan Robby guide local
yang ternyata masih sepupu dengan rekan kita Ronny (Pulau TIdung).
Sudah menyiapkan homestay yang tidak jauh dari Dermaga. Homestay kita
bertepatan dengan rumah yang membudidayakan bakau (mangrove). Untuk yang
ingin menanam bakau sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan,
bisa membeli bakau-bakau muda ini dengan harga seribu rupiah per
batang. Sebelum makan siang kita menyempatkan diri menyambangi wilayah
Barat Pulau yang merupakan lokasi penelitian LIPI. Melewati jalur yang
tenang, tidak seramai Pulau TIdung. Dan lokasinya bisa ditempuh dengan
bersepeda santai.
Setelah makan siang akhirnya waktu snorkelingpun tiba. Spot pertama
adalah APL (Area Perlindungan Laut). Ini memang merupakan spot yang
punya begitu banyak jenis ikan laut dangkal, dan lagi-lagi lebih beragam
dibanding yang ada di Pulau Tidung Kecil. Sayangnya karena cuaca yang
kurang mendukung, kita urung ke spot yang punya nama Bintang Rama dan
Pulau Burung. Jadilah kita berfoto-foto di Pulau kecil bernama Tikus.
Dan hujan akhirnya menemani sore kita, sehingga kita batal berburu
sunset Pulau TIdung. Tapi, semua terbayar saat kita menikmati barbeque
ikan dan juga sejenis siput laut yang bahasa Pulaunya Kedong Kedong,
tambah serunya kita barbeque di Pantai Pasir Perawan yang malam itu
surut hingga ratusan meter. Nikmat dan Bolangers yang belum pernah,
harus mencicipinya.
Pantai Pasir Perawan ternyata saat pagi hari kembali pasang, dan
sampan bersama pendayungnya bisa kita pergunakan untuk melintasi hutan
bakau yang belum terlalu rapat. Namun bakau-bakau inilah yang membuat
pantai menjadi begitu tenang airnya. Dan sangat berbeda setelah
melintasi barisan bakau, karena ombak dari laut lepas langsung
menggoyangkan sampan yang berisikan lima orang ini. Dengan hanya
Rp.30.000,- kita bisa menikmati sensasi bersampan selama 30 menit.
Bermain di Pantai Perawan bisa juga diisi dengan volley Pantai atau
santai di atas ban yang banyak disewakan. Ataupun sekedar santai di
sawung-sawung yang banyak terdapat di sana. Oh iya, untuk tarif masuk
dan parkir sepeda dikenakan biaya RP.3.500,-. Senangnya bermain di
Pantai sebagus ini yang tidak terlalu ramai wisatawan. Karena memang
Pulau Pari lebih tenang dan teratur dibandingkan Pulau Tidung ataupun
Pulau Pramuka.
Bagaimana? Tertarik juga ke Pulau Pari? Yuuk ngebolangs bareng…